Tuesday, April 2, 2019

Membangun REST API dengan Laravel dalam 5 menit

Beneran 5 menit bisa jadi? Serius bisa koq 😉 Hehe.. 

Saya mulai mengenal laravel setelah mendapatkan kerjaan dari salah satu vendor telekomunikasi terbesar di Indonesia untuk memaintenance sistem yang sudah ada sekitar 2 tahun yang lalu. Selain itu beberapa programmer web jaman now ga keren klo belum menggunakan laravel untuk mengembangkan web di PHP. 

Dan semester ini saya diberi amanah untuk mengajar matakuliah Hybrid Web Development, dimana mahasiswa nantinya akan membuat suatu aplikasi back-end menggunakan REST API dan front-end menggunakan javascript, dan di bagian back-end akan digunakan framework laravel untuk membangun REST API tersebut.

Laravel dengan fitur Migration dan Eloquent-nya memungkinkan kita dengan cepat membangun aplikasi berbasis web. Masalah waktu 5 menit ini sebenarnya banyak faktor yang mempengaruhi, mungkin bisa lebih cepat lagi atau malah jauh lebih lama. Saya sendiri merasakan kemudahan dan kecepatan dalam membangun aplikasi menggunakan laravel dibanding beberapa framework yang lain. Jadi 5 menit ini sebenarnya hanya kiasan saja 👌

Untuk laravel bisa didownload menggunakan composer, saat artikel ini ditulis versi laravel yang digunakan adalah 5.8.3.

Bagi yang belum tau composer, bisa menuju ke artikel ini untuk penjelasannya. Berikut perintah untuk membuat project baru laravel dengan composer. Tuliskan pada command atau terminal.

$ composer create-project laravel/laravel laravel-api --prefer-dist

Silahkan menunggu proses download file-file laravel, lama tidaknya tergantung koneksi internet anda ya.. Selanjutnya kita akan membuat file Model Mhs beserta migration-nya, silahkan dilanjutkan dengan menulis perintah ini di command atau terminal.
$ php artisan make:model Mhs -m

Pada perintah diatas, selain membuat model, kita gunakan tambahan parameter -m yang berfungsi untuk membuat file migration. Buka file migration pada direktori database/migrations/2019_04_02_22551_create_mhs_table.php, kemudian tambahkan code berikut ini pada method up():

Schema::create('mhs', function (Blueprint $table) {
 $table->bigIncrements('id');
 $table->string('nim');
 $table->string('nama');
 $table->string('email');
 $table->string('hp');
 $table->timestamps();
});

Pada tutorial ini akan digunakan 1 tabel mhs dengan field seperti pada code diatas, yaitu: id, nim, nama, email, hp. Fungsi timestamp() disini otomatis akan men-generate field created_at dan updated_at pada tabel. Selanjutnya buka file app/Mhs.php dan lengkapi code untuk model Mhs seperti dibawah ini:

class Mhs extends Model{
    protected $fillable = ['nim', 'nama', 'email', 'hp'];
}

Variabel $fillable yang digunakan diatas merupakan salah satu variabel spesial pada Eloquent di laravel yang burfungsi untuk mendaftarkan field/kolom pada tabel yang dapat digunakan untuk insert atau update data. Selain itu terdapat juga variabel $hidden, $visible, $appends, dll. Lebih detailnya bisa menuju ke artikel id-laravel.com berikut ini.

Setelah melengkapi kedua code diatas, selanjutnya jalankan perintah migrasi di command atau terminal sebagai berikut:
$ php artisan migrate

Seeding pada laravel adalah fitur untuk melakukan pengisian data pada tabel di database. Disini akan digunakan library Faker yang dapat melakukan insert ke tabel menggunakan data testing, jadi mempermudah programmer tentunya dalam melakukan pengembangan sistem.

Untuk men-generate code Seeder tersebut silahkan tuliskan perintah berikut ini di command atau terminal:
$ php artisan make:seeder MhsTableSeeder

Dari hasil execute perintah diatas akan ter-generate file di /database/seeds/MhsTableSeeder.php. Pada function run() tambahkan code berikut ini untuk melakukan insert data menggunakan Faker.

$faker = Faker::create();
 foreach(range(0,10) as $i){
  DB::table('mhs')->insert([
  'nim' => $faker->randomNumber(8),
  'nama' => $faker->name,
  'email' => $faker->email,
  'hp' => $faker->phoneNumber
 ]);
}
Untuk menjalankan proses insert data testing ke dalam tabel gunakan perintah dibawah ini pada command atau terminal
$ php artisan db:seed --class=MhsTableSeeder

Dan cek menggunakan db manager untuk memastikan bahwa data-data tersebut telah ter-create


10 data telah ditambahkan melalui seeder


Tahap selanjutnya adalah membuat file controller untuk API dan memetakan end-point dengan menggunakan route di laravel. Pertama jalankan perintah untuk membuat file controller di command atau terminal.
$ php artisan make:controller MhsController

Berikutnya buka file routes/api.php dan tambahkan code dibawah ini untuk memetakan end-pont yang akan digunakan.

Route::get('mhs', 'MhsController@index');
Route::get('mhs/{id}', 'MhsController@show');
Route::post('mhs', 'MhsController@store');
Route::put('mhs/{id}', 'MhsController@update');
Route::delete('mhs/{id}', 'MhsController@delete');

Dan terakhir, buka file app/Http/Controllers/MhsController.php. Sesuaikan dengan code berikut ini:

use Illuminate\Http\Request;
use App\Mhs;

class MhsController extends Controller
{
    public function index(){
        return Mhs::all();
    }
 
    public function show($id){
        return Mhs::find($id);
    }

    public function store(Request $request){
        return Mhs::create($request->all());
    }

    public function update(Request $request, $id){
        $mhs = Mhs::findOrFail($id);
        $mhs->update($request->all());

        return $article;
    }

    public function delete(Request $request, $id){
        $mhs = Mhs::findOrFail($id);
        $mhs->delete();

        return 204;
    }
}

Tahap ini telah berhasil dibuat 5 buah end-point. InshaAllah pada artikel berikutnya akan saya bahas pengujian tiap-tiap end-point menggunakan tools postman.

Selamat mencoba, Semoga bermanfaat..

Tuesday, March 19, 2019

Yuk berkenalan dengan Nasi berserat

Sejak 2 tahun terakhir ini saya sudah mengikuti channel telegram dan instagram Jurus Sehat Rasulullah, sudah sering kopdar juga sih dengan pemilik akunnya dok Zaidul Akbar, diskusi masalah bisnis 😋😉.

Nah.. sering juga saya share info dari akun tersebut ke istri yg mana seprofesi dengan dok Zaidul, ternyata si doi sepakat juga dengan beliau.. hehe

Kali ini pembahasan di https://t.me/JurusSehatRasulullah tentang nasi. Nasi memang selalu menjadi trending topik dalam pembahasan karbohidrat, kita di Indonesia belum lengkap klo makan tanpa nasi pastinya. Ternyata menurut dok Zee, nasi putih saat ini memang sudah tidak lagi mengandung serat dan mineral penting lainnya. Oleh karena itu ketika makan nasi putih saja maka otomatis gula darah jelas akan naek karena tinggiya gula di nasi putih. 

Disuruh stop makan nasi putih..? Berat deh kayaknya 😏

Beliau memberi tips sederhana agar nasi putih kita tetep ada seratnya bahkan tinggi serat. Salah satunya adalah dengan menambahkan produk topingan serat buat nasi putih. Tampilannya setelah dimasak kira-kira seperti gambar dibawah ini..

Sarapan saya pagi ini
Nama produk tersebut adalah Kongbap, teman-teman bisa mencari di supermarket atau toko-toko online. Ternyataa.. setelah ditambahkan topping tersebut, nasinya jadi enaaaak banget, dan saya cocok (ga tau juga selera teman2 yg lain). 

Cara masaknya juga gampang koq, tinggal campur aja beras dengan 1 sachet Kongbap dan masak seperti biasa. Menurut panduan di bungkusnya 1 sachet bisa digunakan untuk 2 cup nasi putih (2 liter nasi mungkin ya). Klo saya, sekali masak nasi 2 liter ditambahkan 1 sachet, gitu ajaa.  

Ini penampakan 1 sachet Kongbap
Sekitar 4-6 bulan terakhir ini saya dan keluarga sering konsumsi nasi + kongbap, ga setiap hari juga siih.. paling ga 2/3 kali seminggu. Semoga istri saya konsisten pas belanja bulanan beli kongbap sekalian..

Selamat mencoba yaaa 😉

Friday, January 4, 2019

Kembali ke Pebble watch

Pebble adalah smartwatch yang mulai muncul sekitar April 2012 dan support untuk OS Android dan iOS. Pada saat itu, Pebble merupakan satu-satunya smartwatch yang ada, belum ada saingan dari Samsung Gear, Garmin atau iWatch. Pebble Classic adalah smartwatch seri pertama yang diluncurkan oleh Pebble Techology Corporation dan pada bulan Mei 2012 berhasil memperoleh keutungan US$10,3 juta.

Saat itu harga Pebble Classic sekitar $99 dan pada periode promo bisa diorder dengan harga $70-an. Akhir tahun 2013 saya sukses mendapatkan pebble dari searching di Olx dan COD-an di TVRI Jogja dengan harga klo ga salah 800 ribu sekian.

Alasan memiliki Pebble ketika itu adalah: (1)Ga pernah punya jam tangan, (2)Smartwatch yang mendukung notifikasi di Android, (3)Terdapat berbagai macam apps dan watchface yang ada di Pebble Store/Play (Ga tau namanya), (4)Menyediakan Pebble SDK dimana kita dapat mendevelop app atau watcface (Belum kesampaian 😅)

Ternyata seri Pebble Classic ini terdapat kelemahannya, setelah menggunakan sekitar 2 tahun muncul maslaah yaitu layar pada Pebble sering blur/pecah. Setelah mencoba googling, banyak juga yang mengalami masalah ini, istilahnya "pebble screen tearing". Akhirnya saya coba untuk email ke support Pebble dan Alhamdulillah saya akan mendapatkan 1 set Pebble sebagai pengantinya. 💪

Inilah tampilan screen tearing..
Dan sekitar bulan Juli 2015 saya mendapatkan paketnya yang dikirim melalui DHL dan harus menebus sekitar Rp150,000 di Kantorpos. Hmm... seharusnya penerima ga dikenankan biaya lagi, karena ini bukan pembelian barang baru, tapi return dari perusahaan Pebble. Tapi yaa sudahlah.. susah menjelaskan ke pihak yang bersangkutan dan tidak perlu berdebat, banyak-banyak berdoa saja, InshaAllah akan lebih banyak rejeki dari berbagai arah yang tak terduga. 😁😇

Sekitar satu tahun terakhir masalah screen tearing muncul lagi, terakhir kali saya gunakan adalah bulan November 2017 saat trip ke Japan, tapi setelah itu sudah tidak tertolong lagi karena semakin parah. Berhubung perusahaan Pebble sudah  tutup sejak tahun 2016 dan di-informasikan tidak lagi ada supportnya (FYI: Pebble dibeli perusahaan Fitbit dan harga smartwatch-nya mahal-mahal 😑) maka saya pasrahkan saja untuk menyimpan rapat-rapat di kotaknya kembali.

Tetapi 2 hari kemarin koq tiba-tiba di youtube muncul recommended video dengan judul "[GUIDE] Pebble Screen Tearing Fix", penasaran khaan.. dilanjut menyimak dan melihat video-video lainnya. Selanjutnya coba degh buka kembali kotak Pebble dan setelah 1/2 jam bongkar-bongkar berhasil juga fixing Pebble.


Setelah Pebble bisa digunakan kembali rencana meminang Fitbit dibatalkan dulu, karena dari sisi kegunaan smartwatch ini sudah mencukupi. Dan untuk setup kembali ternyata harus install aplikasi rebble sebagai gateway untuk menghubungkan ke aplikasi resmi Pebble. Selanjutnya penggunaan seperti biasa, pilih-pilih watchface, pilih-pilih aplikasi dan nikmati jaman-jaman kejayaan pebble dahulu kala.. ✌😉

Kembali menemani hari-hari yang menyenangkan 😉